Adat Tradisi Nyadran dan Do’a Bersama Jelang Ramadhan Kampung Tempuran

Administrator 12 Maret 2023 17:25:23 WIB

Tamantirto -- Pada hari Minggu tanggal 12 Maret 2023 sehabis Shalat Dzuhur sekitar pukul 12.00 WIB bertempat di Masjid Al – Fajar, Tempuran RT.08 DK.VII Brajan, Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul adat budaya tradisi Nyadran dan Do’a Bersama. Kegiatan tersebut diikuti oleh masyarakat warga Kampung Tempuran yang terdiri dari 2 Rukun Tetangga (RT), RT.08 dan RT.09. Tradisi ini dilaksanakan secara rutin setiap tahun dan turun temurun Jelang Bulan Ramadhan di Bulan Sya’ban (dalam Penanggalan Jawa disebut Sasi Ruwah).  

Nyadran merupakan momentum untuk menghormati para leluhur dan ungkapan syukur kepada Sang Pencipta. Dalam kalender Jawa, Nyadran digelar pada Bulan Ruwah, sehingga Nyadran juga dikenal sebagai acara Ruwahan. Tujuan diadakan Nyadran adalah untuk bersama-sama mendoakan para leluhur dan para orang tua yang sudah mendahului kita. Selain itu, Nyadran dimaknai sebagai hasil akulturasi Budaya Jawa dengan Islam.

Pada kesempatan itu dihidangkan Kolak, Apem dan Ketan yang mempunyai makna filosofis dalam tradisi Budaya Jawa. Kolak berasal dari kata khalaqa yang berarti menciptakan. Istilah tersebut kemudian diserap dalam bahasa Indonesia menjadi khaliq yang memiliki arti Sang Pencipta atau Tuhan Yang Maha Esa, dengan demikian, penggunaan kolak dalam tradisi Ruwahan mempunyai makna bahwa para pelaku tradisi ingin mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, selain itu, harapan yang sama juga dimohonkan untuk para leluhur mereka. Sementara Apem berasal dari bahasa Arab yang berlafal Affum atau afwan yang memiliki arti permintaan maaf. Dengan kata lain, penggunaan apem sebagai sajian tradisi Ruwahan dimaksudkan untuk memohon maaf baik untuk diri sendiri maupun keluarga yang sudah meninggal, selain itu, apem juga dimaknai sebagai simbol agar manusia selalu bisa memaafkan kesalahan orang lain terhadap dirinya, apem juga dimaknai sebagai kebulatan tekad untuk memohon perlindungan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya Ketan yang berasal dari kata ‘Kraketan’ ketan juga didefinisikan dari pelafalan orang Jawa dalam menyebut Khotan. Istilah yang berasal dari bahasa Arab tersebut memiliki makna kesalahan. Dengan demikian, penggunaan ketan sebagai ubarampe dalam tradisi Ruwahan mempunyai makna untuk mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki kesalahan yang muncul dari diri sendiri, selain itu, ketan yang berwarna putih bersih juga melambangkan manusia yang memohon perlindungan dengan niat yang suci. Kehadiran ketan mengisyaratkan bahwa keluarga yang mengadakan tradisi Ruwahan ingin melakukan permohonan maaf atas kesalahan mereka dan para leluhurnya.

 

#TradisiNyadran  #KampungTempuran  #PadukuhanBrajan  #KalurahanTamantirto

 

 

 

 

 

Komentar atas Adat Tradisi Nyadran dan Do’a Bersama Jelang Ramadhan Kampung Tempuran

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
Isikan kode Captcha di atas
 

Kalurahan Tamantirto

Facebook

facebook.com/tamantirto.sid

Audio

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah Pengunjung

Website desa ini berbasis Aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) Berdaya yang diprakarsai dan dikembangkan oleh Combine Resource Institution sejak 2009 dengan merujuk pada Lisensi SID Berdaya. Isi website ini berada di bawah ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International (CC BY-NC-ND 4.0) License